1. Bed time story

    Ada seorang pak tua bijak didatangi oleh seorang pemuda yang sedang dirundung dilema dan masalah. 

    Pak tua bijak mendengarkan dengan seksama, laluia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air.. ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas dan diaduk perlahan.

    “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya?” ujar pak tua.

    “Pahit sekali!” jawab pemuda itu.

    Pak tua tersenyum, lalu mengajak pemuda itu untuk berjalan ke tepi telaga di belakang rumahnya. ditaburkannya lagi serbuk pahit itu ke telaga.

    “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah….. Bagaimana rasanya?”

    “Segar.” sahut si pemuda.

    “Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?” tanya pak tua.

    “Tidak.”

    Pak tua berkata,

    Anak muda, dengarkan baik-baik… pahitnya kehidupan sama seperti segenggam serbuk pahit ini, tak lebih..tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama. Tapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

    Kepahitan itu akan di dasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang dapat kamu lakukan….

    Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Hatimu adalah wadah itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.

    Jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran di dalam hatimu.”